Bimbingan Skripsi Terpaksa Dilakukan Jarak Jauh

Pandemi Covid-19 memaksa aktivitas studi mengajar berasal dari merasa tingkat taman bermain hingga perguruan tinggi mesti dilakukan secara jarak jauh atau daring.

Selama aktivitas akademik terjadi secara online, mahasiswa dan dosen yang tengah menekuni bimbingan skripsi kedokteran termasuk mengalami kendala.

Ignatius Haryanto (51) merupakan keliru satu dosen pembimbing skripsi yang merasakan perbedaan berasal dari bimbingan skripsi tatap wajah dan online.

“Kalau tatap wajah lebih enteng untuk saling berinteraksi, untuk saling berikan masukan. Dan jikalau ada yang tidak dimengerti, mahasiswa sanggup langsung respons gitu ya. Tapi sekarang jikalau didalam bentuk online ini ya saya berusaha seluruhnya didalam bentuk tertulis, memberi tambahan komentar secara tertulis

Penggunaan aplikasi teknologi didalam bimbingan skripsi cukup menunjang untuk menggantikan pertemuan tatap muka. Meski demikian, dia selalu merasa pertemuan tatap wajah lebih efektif dan lebih enteng dilakukan.

Diakuinya, keadaan pandemi yang memaksa segala sesuatu dilakukan secara online, pada pada akhirnya mempengaruhi kualitas skripsi. Keterbatasan untuk turun langsung ke lapangan sanggup menjadi rintangan bagi mahasiswa menghasilkan skripsi yang maksimal. Ignatius terpaksa menurunkan sedikit ekspektasinya pada hasil skripsi mahasiswanya.

“Misalnya pada tempo hari sidang skripsi, kami pun tahu andaikata mahasiswa yang mestinya turun lapangan sanggup tidak cukup maksimal.

Atau mungkin disaat di berjumpa dengan narasumber tidak sanggup menemuinya secara langsung dan mesti menemuinya secara online gitu ya. Kadang-kadang tak seluruh responden rela ditemui secara online. Saya kira termasuk menjadi rintangan (pembuatan skripsi) ya.”

Kendala lain yang mungkin terjadi didalam pembuatan skripsi di tengah pandemi ini adalah ada potensi manipulasi yang dilakukan mahasiswa.

“Situasi pandemi layaknya ini kan relatif tidak sanggup ketemu langsung ke lapangan andaikata ya. Atau jalankan survei di lapangan dan lain-lain, seluruhnya dilakukan secara online.

Itu kan termasuk miliki potensi untuk dimanipulasi, dibohongi gitu ya. Mengaku jikalau survei sudah ada 100 orang responden tapi kan sanggup andaikata itu dilakukan orang lain, atau siapa saja.”