Pemerintah mengapresiasi penggunaan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) oleh produsen kelapa sawit. Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan perihal ini bisa dijadikan pilihan bagi pabrikan pengolahan sawit yang jauh berasal dari transmisi listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk membangun PLTBG.

Selain itu, pembangunan PLTBG dinilai bisa menambah elektrifikasi bagi penduduk lebih kurang perkebunan kelapa sawit (PKS).

PTPN V bisa jadi independent didalam penyediaan listriknya [dan] tidak kudu bergantung terhadap [bahan bakar] diesel yang mahal

Bambang memberikan penggunaan PLTBG bisa meringankan biaya memproduksi PTPN V. Hal tersebut, lanjutnya, bakal tercermin terhadap peningkatan serapan tandan buah fresh (TBS) berasal dari kebun plasma yang terhadap akhirnya mensejahterakan petani sawit lebih kurang PTPN V.

Pada peluang yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pengembangan PLTBG di PKS lain bisa mengakselerasi target pemerintah terhadap 2025. Pasalnya, pemerintah menargetkan kontribusi biogas terhadap 2025 raih 489,8 juta m3.

Adapun, Hammam menghitung pabrikan pengolahan sawit nasional berpotensi membuahkan 120,2 juta ton dengan flow meter air limbah  berasal dari memproduksi minyak sawit mentah atau palm oil mill effluent (POME) terhadap tahun lalu. POME tersebut bisa diolah jadi 1,5 Gigawatt listrik atau mengurangi impor LPG secara signifikan.

“Produksi listrik bisa surplus. Kalau di bahan bakar itu bisa dihasilkan 2,6 juta ton LPG atar lebih kurang 45 persen berasal dari impor LPG,” katanya. PTPN V gunakan POME untuk membuahkan biogas.

Adapun, biogas tersebut bakal disalurkan ke pabrik pengolahan kelapa sawit untuk menukar mengonsumsi gas maupun bahan bakar lainnya didalam sistem memproduksi minyak sawit mentah (CPO).

Pembangunan PLTBG Teranam di PTPN V merupakan hasil kerja sama dengan BPPT ini punyai tingkat takaran didalam negeri (TKDN) raih 60 persen. Selain itu, PLTBG Teranam berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca lebih kurang 18.000 ton per tahun.

Bambang menilai PLTBG tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk memproduksi bio compressed natural gas (Bio-CNG) sebagai substitusi mengonsumsi liquid pertoleum gas (LPG) penduduk lebih kurang PKS. Hal tersebut, ujarnya, bisa membantu meringankan neraca perdagangan nasional mengingat 50 persen impor minyak dan gas (migas) merupakan LPG.